Bireuen merupakan ibukota salah satu kabupaten di Provinsi Aceh yang bernama sama. Luasa kabupaten ini adalah 1.899 km²,
dan merupakan hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Aceh Utara.,
pada tahun 2000. Dengan jumlah penduduk sekitar 370 ribu jiwa, Bireuen
terkenal dengan julukan Kota Juang dan dulu merupakan salah satu daerah basis utama Gerakan Aceh Merdeka. Selain itu, kota ini terkenal juga dengan emping melinjo dan keripik pisang-nya.
Bireuen dapat dicapai dengan waktu tempuh 3-4 jam perjalanan darat dari
Banda Aceh, atau 7-8 jam perjalanan darat melalui Medan.
Bireuen berasal dari bahasa Arab, yaitu Birrun,
yang artinya kebajikan, dan yang memberikan nama tersebut adalah orang
Arab juga, pada saat Belanda masih berada di Aceh. Kala itu, orang Arab
yang berada di Aceh mengadakan kenduri (perjamuan makan atau selamatan-red) di Meuligoe (Pendopo-red) Bupati sekarang. Ketika itu, orang Arab pindahan dari Desa Pante Gajah, Peusangan, lalu mereka mengadakan kenduri. Kenduri itu merupakan kebijakan saat menjamu pasukan Belanda yang masuk Aceh. Orang Arab menyebut kenduri itu Birrun dan sejak saat itulah nama Bireuen mulai dikenal.
Namun,
tahukan Anda pada pada masa awal kemerdekaan RI, Bireuen pernah menjadi
tempat pengasingan presiden Soekarno dan ibukota RI sementara kala itu?
Peristiwa fenomenal itu
terjadi pada tahun 1948, ketika pasukan Belanda melancarkan agresi
militer keduanya terhadap Jogyakarta, yang kala itu menjadi ibukota RI.
Dalam waktu sekejap, Jogyakarta
jatuh dan dikuasai Belanda. Waktu itu, presiden pertama Soekarno yang
sedang mengendalikan pemerintahan terpaksa harus memilih jalan untuk
menyelamatkan bangsa. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa
mengasingkan diri ke Aceh dan Bireuen adalah tempat yang dinilai paling
aman.
Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpangi pesawat udara Dakota. Pesawat yang dipiloti oleh putra Aceh, Teuku Iskandar,
mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni
1948. Kedatangan rombongan presiden di sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef,
para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat.
Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut
kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu. Malam
harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising
(rapat umum-red) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya,
berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan
Bireuen yang membludak di lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen
sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu muka dan mendengar
langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang
telah menguasai kembali Sumatera Timur, dikenal sebagai Sumatera Utara
sekarang.
Selama
seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, aktivitas Republik
dipusatkan di Bireuen. Beliau menginap dan mengendalikan pemerintahan RI
di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef (Meuligo Bupati Bireuen
sekarang), Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah
Karo. Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI
ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda.
Sayangnya catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah
kemerdekaan RI.
Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, kemudian bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja, sekarang dikenal sebagai Banda Aceh. Di Kutaradja,
Gubernur Milter Aceh mengundang seluruh saudagar Aceh di Hotel Aceh dan
menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Aceh menyumbang
dana bagi pembelian pesawat terbang untuk perjuangan Republik. Hasilnya?
Indonesia berhasil membeli pesawat angkut pertama yang dinamai Dakota
RI-001 Seulawah. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal
berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, yang sekarang dikenal sebagai Garuda Indonesia Airways.
Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan
negara Indonesia. Memang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat
Aceh, atau Bireuen pada khususnya, dalam rangka mempertahankan
kemerdekaan Republik tidak boleh dipandang sebelah mata.
Replika Seulawah RI-001 di Banda Aceh / (indonesia.is)
Itulah
cerita singkat, tentang Bireuen sebagai ibukota RI ketiga, setelah
Jakarta dan Jogyakarta. Meski hanya 1 minggu, namun memiliki nilai
sejarah yang tidak boleh terlupakan oleh bangsa Indonesia.
Salam

Untuk mengetahui secara lebih rinci
Segera dpatkan buku sejarah tntang daerah kita
Artikel ini saya ikut sertakan juga dalam Bireun Blog Writing Competition 2014
http://menulisbireuen.blogspot.com/